Diberdayakan oleh Blogger.

Family Gathering Supermoms Indonesia

Sekitar akhir tahun 2010, sepulang mengikuti seminar Bu Elly Risman yang ini, saya dan Resti yang juga tergabung dalam BBG Happy Mommies begitu antusias dengan seminar Parenting tadi. Karena menurut kami materi seminarnya bagus banget, kami pun sempat diskusi di BBG. Namun sangat disayangkan, saat itu kami merasa masih terhitung jarang ada seminar parenting sebagus ini.

Makanya entah siapa yang memulai tapi tercetuslah ide di antara kami ' Kenapa kita gak coba bikin seminar sendiri aja ? Toh kita-kita juga kok yang perlu belajar '.

Disitulah semuanya bermula.
Mendadak saya diundang bergabung di BBG yang lain yang kala itu masih bernama " Mari Cerdas Bersama ". Di sana udah berkumpul beberapa orang yang sebelumnya sudah saya kenal di BBG Happy Mommies. 
Namun selebihnya adalah orang-orang yang selama ini hanya saya kenal namanya dari akun twitter. Itupun karena sering bersahutan dengan teman-teman Happy Mommies di linimasa

Seminar " Mengirimkan Anak Ke Sekolah Internasional : Gengsi ? Mencari Prestasi ? Atau Membuat Anak Frustasi ? "

Walaupun tahun ajaran baru akan dimulai bulan Juli nanti, tapi biasanya banyak sekolah yang sudah membuka pendaftaran siswa baru di awal tahun seperti saat ini. Bahkan beberapa sekolah favorit sudah membuka seleksi siswa baru di akhir tahun. 

Sebagian orangtua yang berharap agar kelak mampu bersaing di era globalisasi, memilih  untuk memasukkan putra atau putrinya ke Sekolah Bertaraf Internasional. Namun terkadang hal ini dilakukan tanpa didasari  pengetahuan yang mencukupi tentang sistem dan kurikulum sekolah internasional.

Menanggapi keinginan dan kebutuhan para orangtua untuk mendapatkan informasi yang cukup sebelum memilih sekolah yang terbaik untuk putra-putrinya, maka Supermoms Indonesia kembali mengadakan seminar dengan tema 

" Mengirim Anak ke Sekolah Internasional : Gengsi ? Mencari Prestasi ? atau Membuat Anak Frustasi ? "

Hari  / Tanggal : Sabtu, 2 Februari 2013 
Tempat           : Estubizi Business Center, Setiabudi One Building, Kuningan,  
                       Jakarta Selatan
Biaya              : Rp 100.000,00 (seratus ribu rupiah)

Pembicara       : Bpk. Faisal Sundani Lc, M.Ed

Bpk. Faisal Sundani Lc, M.Ed adalah seorang pendidik sekaligus Vice Principal dari salah satu International Islamic School di Kuala Lumpur. Beliau sudah berkecimpung dalam dunia pendidikan termasuk menyusun kurikulum kurang lebih selama 7 tahun.

Sebelumnya, beliau juga pernah menjadi pembicara pada Seminar  “ International School Curriculum, pro and cons, tips for Indonesian parents “ di Rumah Parenting Bintaro Jakarta Indonesia.

Mengapa seminar ini penting untuk kita ?

Seminar ini akan memberikan gambaran kepada orangtua mengenai besarnya pengaruh kurikulum sekolah (pro dan kontra) bagi perkembangan holistic ( hati, akal dan fisik) anak,  serta berbagi tips untuk mendapatkan sekolah dengan kurikulum yang sesuai dengan tujuan yang ingin kita capai.

Bagi yang berminat untuk hadir dalam seminar ini , dapat mengirimkan email ke supermomsid@gmail.com atau mengirimkan sms ke 0818131082.

Oleh-oleh Dari Sesi 2 #tetralogy

Seminar sesi 2 dari rangkaian seminar #tetralogy telah berlangsung pada 22 September 2012, terima kasih atasantusiasme super parents untuk bersama-sama kami belajar dan berbagi ilmu.

Berikut adalah rangkuman seminar sesi 2 yang ditulis dengan sangat bagus, sangat padat dan sangat menyentuh oleh salah satu anggota Supermoms Community, INDAH KURNIAWATY, selamat membaca dan semoga bisa diambil manfaatnya..

Sama seperti permintaan Bu Elly Risman di session 1, apa yang kami dapatkan dan kami serap di session 2 sebaiknya kami share kepada tiga lingkungan yang mungkin mempengaruhi anak-anak kami.

Dan sama seperti rangkuman di session 1, ini akan jadi postingan yang sangat panjang. Semoga yang baca tetap tertarik membacanya hingga kata terakhir, karena ini bermanfaat untuk melindungi buah hati kita.

Diawal seminar, Bu Elly minta izin kepada peserta yang sudah pernah mengikuti materi di session 1 untuk mengulang sekilas beberapa point penting materi session 1 kemarin.

Mengapa Bu Elly dan Team menyiapkan satu materi khusus mengenai Kekerasan Seksual pada anak ini ?
Dan mengapa akhirnya Supermoms Indonesia memilih materi ini sebagai salah satu topik dalam Seminar Tetralogy tahun ini.

Bu Elly menjabarkan data dari Pratista Indonesia, rekapan data Kasus Anak selama periode April 2005 - Agustus 2012 (untuk kota Bogor, Kab. Bogor dan Luar Bogor).

Mari kita perhatikan dan analisa bersama-sama grafik yang sudah disiapkan oleh Tim Bu Elly Risman...
                                                          Data statistik Kasus Yang Menimpa Anak

Data statistik tersebut di atas yang mendasari Bu Elly Risman dan Supermoms Indonesia merasa penting untuk meningkatkan pengetahuan kita untuk mencegah kekerasan sexual ini pada anak.

Sebelum kita lanjut lebih dalam ke upaya menghindari kekerasan seksual terhadap anak kita, coba check pemahaman kita sebagai orang tua dulu deh.

Sebenarnya, saat mendengar kata " Kekerasan Seksual ", kita ngertinya apa sih ?
Kayak gimana sih yang bisa dikategorikan sebagai " kekerasan Seksual " ?
Jangan sampe ketika sudah ngomong sampe berbusa-busa, nulis sampe tangan keriting soal Kekerasan Seksual, tapi kita malah gak ngerti apa itu Kekerasan Seksual.

Jadi, yang dimaksud dengan 'Kekerasan Seksual' itu apa sih ? 
adalah kegiatan atau aktivitas seksual yang dilakukan oleh orang dewasa atau bisa jadi oleh anak yang lebih besar, terhadap anak, balita atau bayi.
(punten, kalo saya tambahin ya, Bu karena sekarang bayi pun sudah banyak yang menjadi korban kekerasan seksual)

Kegiatan ato seksual yang dimaksud bisa bermacam-macam.
Bisa melibatkan fisik korban secara langsung maupun secara tidak langsung.

Kalau yang melibatkan fisik korban secara langsung kayaknya lebih gampang kita deteksi sebagai kekerasan seksual ya.
Contohnya : membelai ato meremas-remas bagian sensitif anak, yang lebih parah tindakan perkosaan.

Yang selama ini mungkin gak kita sadari bahwa itu merupakan bagian dari kekerasan seksual, contohnya :
  • diolok-olok dengan kata-kata porno
  • Pernah ngeliat pria exhibitionist yang suka memamerkan alat kelaminnya kan ?
  • Ngintipin orang mandi 
Sekarang, coba kita kembali melihat data-data statistik yang disiapkan oleh Bu Elly dan Team mengenai Kekerasan Seksual ini terhadap anak.

Ternyata lebih banyak korban yang tidak tau, tidak mengerti
atau merasa tidak pernah menjadi korban kekerasan seksual

Masya Allah...
Saat Bu Elly menunjukkan kepada kami sekilas berita tentang kekerasan seksual mulai dari keluarga sekandung memperkosa keluarganya, kemudian ditampilan ulangan berita mengenai anak-anak usia SD yang sudah berani melakukan hubungan seksual di bawah tenda pesta pengantin. Astagfirullah...

Apapun yang sudah dilakukan anak-anak ini di usia dini seperti itu, gak bisa kita pungkiri bahwa anak-anak ini hanyalah korban.
Karena bagaimanapun karakter seorang anak terbentuk tentunya tidak terlepas dari bagaimana pola pengasuhan yang diterapkan oleh orang tuanya di rumah.

Marilah kita bersama-sama bercermin, mengintropeksi diri, melihat kembali tujuan pengasuhan yang kita sudah terapkan ke anak di rumah kita selama ini.
Ingatkah kita bahwa setiap anak yang dianugerahkan ke kita, bukanlah milik kita namun hanyalah titipan-Nya, dimana kita PASTI dimintai pertanggungjawabannya ?

Bagaimana selama ini kita berkomunikasi ke anak kita ?
Apakah hanya komunikasi satu arah ?
Sudahkah kita berikan perhatian yang dibutuhkan anak kita ?
Iya, Iya...kita mungkin sudah sering memberikan bentuk perhatian ke anak kita. Begitu anak pulang sekolah, kita sudah berikan perhatian dengan
" Kamu ada PR ? Jangan lupa bikin PR dulu baru boleh main ya " ,
" Kamu jangan lupa makan siang, abis itu bobo sampe jam 1. Mama mo ingetin, jangan lupa kamu ada les bahasa Inggris jam 3 sore ya..."

Oh, kalo si anak ternyata sudah memiliki adik, Ibunya mungkin akan menyambut si anak pulang sekolah dengan situasi kurang lebih kayak gini " Kamu udah pulang ? Eh, eh...buka sepatumu dulu terus susun di rak sepatu. Abis tuh makan... " seraya menggendong adiknya, nenenin adiknya.
Ato sambil nyapu.
Sambil goreng ikan.
Apalagi ngomong sama anak, matanya fokus nonton infotainment gosip seru Syahrince.
Whatever, intinya : ngomong sama anak pake disambi lah.

Hayooo....siapa yang sering melakukan hal ini, ngomong sama anaknya disambi ngelakuin kerjaan yang lain ??
Serius loe, In the name of MULTITASKING MOM ?!

Oh C'mon, Mommy...
Jangan pernah komunikasi sama anak kita dengan disambi ngerjain hal yang lain!

Jika memang ada pekerjaan yang musti kita bereskan, buru-buru selesaikanlah sebelum anak kita pulang ke rumah.
Jika dia sudah dikaruniai adik , pastikan adikmya sudah bobo ato sudah tenang, sehingga kita bisa bener-bener fokus dengan apa yang Kakak alami hari itu.

Pernahkah selama ini kita menanyakan pendapat anak kita ?
Tau gak, bahwa menanyakan pendapat anak itu merupakan bagian dari Teaching Thinking.
Selain mempunyak efek yang sangat penting untuk merangsang logika anak, menanyakan pendapat anak kita terlebih lagi yang berhubungan dengan dia,  juga merupakan bentuk validasi kita terhadap anak.
Bahwa dia diterima dan dihargai keberadaannya di tengah keluarga.

Sudahkah ayah menjalankan perannya dengan baik dalam DUAL PARENTING ?
Beberapa rangkuman betapa penting peran ayah dalam pengasuhan anak ada di session sebelumnya.

Bagaimana kita mengajarkan ajaran agama dan nilai-nilai yang kita anut dalam keluarga kita ke anak ?
Apakah selama ini kita subkontrakkan pendidikan agama anak kita ke sekolah "Al-Al-" an, guru ngaji, guru PPKN ?
Padahal yang tau persis nilai-nilai agama seperti apa yang kita harapkan ke anak, adalah orang tuanya sendiri kan ?

Emangnya siapa nanti yang diminta pertanggungjawaban atas anak di hadapan Tuhan ?
Adalah kita sebagai orang tuanya.
Guru sekolah, guru ngaji, Ustadz A, Ulama B mah gak akan diminta pertanggungjawabannya atas kehidupan anak kita.

Masalahnya : bagaimana kita bisa pede mengajarkan ajaran agama yang kita anut ke anak kita jika kita sendiri aja banyakan gak pahamnya ?

Siapa sih pelaku kekerasan seksual terhadap anak itu ?
Di negara manapun di dunia ini, kekerasan seksual umumnya justru dilakukan  oleh orang yang dekat dan dikenal anak.
Nah lho!

Gimana caranya mereka bisa melakukan kekerasan seksual itu ke anak kita?
Bisa dengan cara mengancam anak kita maupun membujuk mereka.
Saat melakukan kekerasan seksual, anak kita gak berani bilang kepada orang tuanya karena diancam oleh sang pelaku.
Tapi bisa juga karena dibujuk, dirayu dan diiming-imingi dengan sesuatu yang membuat anak tertarik dan lengah.

Kenapa sih kekerasan seksual ini semakin marak terjadi ?
Yah karena orang dewasa dan anak-anak yang lebih besar di sekitar anak kita sudah mengalami kerusakan otak seperti yang diuraikan dalam seminar session 1.
Jadi bisa dikatakan jika seseorang kecanduan pornografi dibiarkan terus menerus, maka orang tersebut akan mengalami kerusakan otak dan terus terangsang untuk melakukan kekerasan seksual ini.

Salah satu penelitian mengatakan bahwa akhir-akhir ini Phedofilia justru meningkat dengan pesat.
Mengapa ?
Karena menurut hasil observasi, saking ketagihan dan selalu menginginkan sensasi yang lebih tinggi efek pronografi, mereka ini sampai menganggap bahwa dengan melihat foto-foto anak-anak kita justru dianggap memberikan sensasi seksual yang tertinggi. Ewwwwww!!!

Jadi kita mulai harus mulai berhati-hati dengan keberadaan foto-foto anak kita yang dirasa bisa membangkitkan nafsu para phedofilia ini.
Emmm...langsung kepikiran satu hal.
Sering banget ngeliat anak-anak jalanan yang masih balita itu di pinggiran lampu merah dalam keadaan tanpa mengenakan celana dalam.

Ya Allah, Ya Rabb, lindungi lah mereka, Anak-anak yang tidak pernah memilih untuk dilahirkan dan dibesarkan dengan dunia seperti itu.

Di sisi lain, sebagai orang tua, kita juga belum terbuka matanya akan kejahatan yang mungkin mengincar buah hati kita.
Kita kurang membekali anak kita bagaimana menghindari kekerasan seksual ini.

Kita tidak memberikan anak kita kesempatan untuk mengutarakan pendapatnya, sehingga otaknya gak pernah dipakai untuk berpikir.
Padahal dengan mengasah kemampuan anak untuk berpikir, anak menjadi lebih kritis terhadap hal-hal yang terjadi di sekitar dia.

Kita juga tidak membekali dia dengan konsep diri : bahwa DIRINYA sangat berharga!
Sangat berharga untuk disentuh,
sangat berharga untuk diserahkan kehormatannya untuk orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Kita gak pernah ngajarin mereka untuk waspada sekaligus bagaimana menjaga dirinya terhadap segala macam bahaya yang mengancam dirinya, termasuk pelecehan seksual dan perkosaan.

Mungkin selama ini karena kita terlalu sibuk ngurusin : " Udah ngerjain PR ?", " gimana ulangan kamu ?" , " Udah les ini itu ?"

Demi mengantisipasi tindakan kekerasan seksual ini, gak bisa kita lakukan hanya dengan dari sisi kita saja.
Selain meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kita mengasuh anak, kita juga harus menggalang kerjasama di dalam maupun di luar rumah.

Kerjasama ? Kerja sama yang gimana sih yang dimaksud ?
  • Tentunya kerja sama Ayah dan Ibu dalam mengasuh anak. Lagi-lagi menekankan pada konsep : DUAL PARENTING.
  • Kerja sama dengan orang yang terlibat dalam pengasuhan anak kita. Jelaskan tujuan pengasuhan kita kepada Orangtua kita, mertua kita sehingga dalam mengasuh anak, kita semua berjalan seiring sejalan dalam rel yang sama. Komunikasikan juga pengasuhan seperti apa yang kita harapkan dengan pengasuh anak kita, supir. Saat kita merekrut pengasuh anak atau supir, pastikan kita menseleksi mereka dengan sebaik mungkin dan memastikan mereka mempunya track record yang bersih.
  • Jalinlah kerjasama dengan pihak sekolah dan tetangga untuk ikut memperhatikan anak kita dan sekeliling kita. Informasikan dengan baik siapa saja yang boleh menjemput anak kita dari sekolah. Dengan makin canggihnya triks dan tipuan yang bisa mengelabui para guru, para pedator ini bisa lenggang kangkung membawa pulang anak kita dari sekolah. Coba cari cara untuk mensiasatinya. Misalnya dengan mensepakati " password" yang hanya diketahui oleh anak kita dan kita. Maksudnya jika ada orang asing yang ingin menjemput anak kita tanpa ada konfirmasi dari orang tua, mintalah orang asing tersebut menyebutkan kata sandi rahasia.
  • Cobalah bekerja sama dengan lingkungan RT, RW, bagaimana kita bisa bersama-sama memonitor dan mengawasi warnet, sewaan komik, games on line supaya keberadaan bisnis ini tidak merusak anak-anak kita dan lingkungan sekitar kita.
Sekarang, bagaimana cara kita mempersiapkan anak kita supaya anak kita bisa menjaga dirinya dan waspada terhadap bahaya yang mengancam tadi ?

1)  Tentunya dengan meningkatkan komunikasi yang baik antara orang tua dengan anak
Seperti yang dijelaskan di atas tadi, jangan komunikasi dengan anak dalam suasana terburu-buru, ato dengan disambi hal yang lain.
Buatlah suasana santai agar anak lebih rileks dan komunikasi yang terjadi dalam bentuk dua arah. Antara anak dan orang tua.

Gunakan kalimat bertanya dalam menyikapi pertanyaan dari anak.
Misal, jika anak kita yang baru berusia 3 tahun mendadak bertanya kayak gini " Pacaran itu apa sih, Ma ?"
Jangan terburu-buru panik, tegang ato ketakutan teu pararuguh.

Biasakan untuk menanyakan apa yang dia pahami tentang apa yang dia tanyakan, " Yang kamu tahu apa, nak ?"
Dengarkan apa yang dia tahu.
Bisa jadi apa yang dia pahami ternyata tidak seperti yang kita takutkan.
Bisa jadi apa yang dipahami anak jauh lebih sederhana. Pola pikir anak kan belum serumit kita.

Dengan mengajukan kalimat bertanya seperti itu, kita sedang melakukan "Teaching Thinking " ke anak.
Kenapa ?

Ketika diberikan pertanyaan balik, anak akan memeriksa dirinya tentang apa yang dia tanyakan, kemudian itu akan merangsang anak untuk berpikir.
Ya iya dong, karena kan sebelum memberikan jawaban, tentunya anak harus berpikir dulu jawaban apa yang mau diberikan.

Dan jika ini dilatih terus, maka anak kita tentunya akan tumbuh menjadi anak yang cerdas dan kritis.

Ingat : jawaban anak kita mungkin akan berasa #gak penting banget. 
Tapi yang penting buat kita adalah proses bagaimana anak berpikir sebelum memberikan jawaban.

Saat mengkomunikasikan hal ini dengan kakak, bisa jadi caranya berbeda dengan saat membicarakannya dengan sang adik. Karena bagaimana kita berkomunikasi ditentukan oleh :
- Tergantung jenis kelaminnya
- Tergantung usianya
- Tergantung emosi anak : apakah dia anak yang extrovert ataukah introvert
- Tergantung kecerdasan anak

Jika anak kita tergolong anak yang pintar, kita harus mempersiapkan mental dengan kemungkinan timbul pertanyaan -pertanyaan kritisnya seperti " Apa lagi ? " apa lagi ?"

Tapi tahukah, bahwa dengan mendorong anak berpikir kritis akan membantu anak menghadapi kasus per-bully-an yang marak dalam kehidupan anak kita belakangan ini ?

Sedikit intermezzo bagaimana kita menyikapi kasus per-bully-an ini :
*mengacu kepada agama yang penulis*

Bismillah

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِّثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِي

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim“. Ash-Shuraa:40

وَلَمَنْ صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
 “Tetapi barangsiapa yang sabar dan suka memaafkan, sungguh hal yang demikian itu termasuk hal yang diutamakan“. Ash-Shuraa:43

Selalu tanyakan anak emosi yang dia rasakan,
Biarkan dia membuat pengeluaran got emosinya, meluapkan apa yang dia rasakan.

Jelaskan kepada anak bahwa balasan untuk anak yang suka memukul adalah hal yang serupa, yaitu pukulan.
Mereka boleh saja balas memukul saat dipukul temannya, tapi jangan lupa untuk mengingatkan lanjutan ayat tadi.
Jika kita memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas tanggungan Allah.

Toh kalopun kita balas memukul tidak akan menyelesaikan masalah.

Biasanya anak yang sudah terbiasa berpikir kritis, dia akan menanyakan ke temannya yang suka memukul " Kenapa sih kamu pukul-pukul aku ? "
atau dengan tegas berani mengutarakan perasaannya " Aku gak suka dipukul sama kamu "

Tapi ini bukan berarti kita mengajarkan anak untuk membiarkan orang bertindak semena-mena terhadapnya.
Kita pun harus mengajarkan sejak dini untuk fight back!
Mengajarkan bahwa dia jangan sampai kehilangan Dignity nya!

Sebaliknya, adalah PR buat orang tua dan guru yang salah satu anaknya suka memukul untuk mencari tahu latar belakang yang menyebabkan si anak menjadi pembully seperti itu.
Karena dibalik seorang anak yang suka membully, semua berawal dari lingkungan rumahnya!
Jadi kita harus cari tau dulu akar permasalahan dari anak tersebut mengapa dia suka memukul.

Sementara jika anak kita suka memukul, bisa kita coba ajarkan ke anak seperti ini :
Pegang tangan anak, lalu katakan seperti ini " tangan untuk mengambil barang, tangan untuk melambai, tangan untuk mengusap... tapi TIDAK UNTUK MEMUKUL "
Ulangi terus menerus.
Fungsi tangan bisa aja diganti-ganti, asal intinya mengingatkan bahwa fungsi tangan ini bukanlah untuk memukul

OK, balik ke lagi ke topik seminar session 2.
Apabila kita tidak tahu jawaban atas pertanyaan anak, jangan ngarang bebas membohongi anak ya, Bapak Ibu.
Jangan dipikir seakan-akan karena masih kecil anak bisa dibohongi.
Percaya deh, anak zaman sekarang gak selugu kita saat dibohongi dulu :)
Akan lebih fair buat dia jika kita terus terang aja" Nak, saat ini mama tidak tahu jawabannya. Mama cari tau dulu jawabannya nanti Mama kasih tahu ke kamu ya "

2) Ajarkan ke anak bahwa tubuhnya berharga
Kenapa DUAL PARENTING dirasa perlu ?
Salah satunya karena orang yang paling penting untuk membuka pembicaraan ini adalah AYAH.
Mulailah dengan pernyataan seperti ini " Athia...Athia tau gak,kalo Athia itu adalah milik Deded yang paling berharga di dunia ini. Makanya jangan biarkan sembarangan orang menyentuh atau mengelus-elus badan Athia yang berharga ini ya, Sayang... Inget pesen Deded ya, Sayang'

Untuk menanamkan bahwa tubuhnya adalah miliknya yang penting, bisa dimulai dengan memperkenalkan kepemilikannya. Seperti " Ini bajuku ", "Ini rambutku ".
Jadi anak dengan mudah memahami dan berani untuk mengatakan " Ini badanku, Punyaku!"

3) Kenalkan pada anak bedanya : orang asing, kenalan, teman, sahabat, kerabat dan muhrim (bagi yang muslim)

Orang asing:
Adalah orang yang tidak dikenal sama sekali.

Misalnya : orang yang ketemu sama kita saat antri di kasir supermarket, orang yang ketemu kita saat di Rumah Sakit.

Ingatkan anak untuk tidak boleh terlalu beramah tamah atau langsung percaya dengan orang asing ini.
Kalau ditanya nama, boleh dijawab.
Tapi jika ada orang asing yang menanyakan nama mama, nama papa, rumahnya dimana, di rumah ada siapa aja, jelaskan bahwa pertanyaan seperti ini gak boleh dijawab.

Kenalan :
Adalah orang yang kita kenal namanya, sering lihat mukanya, pekerjaannya tapi tidak lebih jauh dari itu.

Misalnya abang tukang sayur langganan mama, tukang koran.
Kita sering lihat orangnya, kita tau namanya " Bang Samin ", tapi kita gak tau rumahnya dimana.

Kalopun kita tau rumahnya di Pekayon, tapi kan kita juga gak tau pasti di sebelah mananya Pekayon.

Nah, dengan kenalan seperti ini, kita pun harus berhati-hati tidak memberikan informasi tentang keluarga kita lebih dalam.

Teman :
Kita tahu lebih banyak tentang dia bahkan tahu sifatnya. Kita boleh bergaul lebih baik dengannya, boleh mempercayainya tapi tetap pada batas-batas tertentu.

Misalnya : Timothy, Nickolas teman sekelas Athia di sekolah. Maira anaknya Tante Meryl yang sering playdate sama Athia.

Sahabat :
Lebih dari sekedar teman, kita sangat mempercayainya tetapi tetap dalam batas tertentu, tidak semuanya kita percaya.

Misalnya : Athia kan suka banget maen sama Aris.

Kadang anak suka merasa sahabat itu segalanya.
Jadi saat dia mengalami penolakan dari sahabat atau putus persahabatan, tak jarang anak menjadi  down. Takut untuk memulai persahabatan baru.

Persahabatan buat anak bak pisau bermata dua. Bisa memberikan sisi positive, namun juga kadang memberikan sisi negative.

Kerabat :
Anggota keluarga dekat
Ada hubungan darah atau perkawinan, yang kita kenal betul.

Kenalkan kepada anak silsilah keluarga besar kita, baik dari pihak ayah dan ibu agar anak mengenal siapa keluarganya, siapa kerabatnya demi menjaga tali silahturahmi. Jangan sampe anak kita tidak mengenal keluarga besarnya sendiri.

Namun kepada kerabat pun kita harus tetap berhati-hati lho.
Udah banyak berita seorang paman memperkosa keponakannya kan ?

Muhrim
Bagi yang muslim, sejak dini kita harus mulai memperkenalkan bahwa muhrim adalah seseorang yang kita gak boleh nikah dengannya.
Dalam kesempatan ini juga, kita bisa mulai menjelaskan mengenai apa yang dimaksud dengan aurat.

Misalnya mengapa Momom di rumah boleh gak pake jilbab, tetapi kalo ada tamu laki-laki pake jilbab. Ato kenapa kalo ada sodara dari Deded yang laki-laki, momom tetap pake jilbab.

Mengenalkan konsep keenam tipe kenalan tadi sebaiknya jangan dilakukan hanya sekali.
Mungkin selama seminggu ini mengenalkan konsep orang asing, selama seminggu ke depan mengulang-ulang konsep kenalan.
Dan ini semua harus terus diulang-ulang karena otak anak belum bersambungan sehingga besar kemungkinan anak cepat lupa.
Dengan diulang-ulang terus menerus, sistem wiring dalam otak anak akan menebal sehingga anak akan lebih ingat.

Jangan lupa untuk selalu memeriksa pemahaman anak.
" Sampai sini, Athia paham yang Momom maksud ? Hayo coba, tadi Momom bilang orang asing tuh yang mana, sayang ?"
Ini penting supaya penyampaian kita membuahkan pemahaman yang sama dengan yang diterima oleh anak.

Berikan contoh yang konkrit nan sederhana, karena itu akan lebih memudahkan anak dalam menyerap apa yang kita sampaikan.
Misalnya kita bisa memberikan kemungkinan-kemungkinan yang akan dia hadapi nanti , " Nanti kalo ada yang nawarin Athia pake mobil-mobilan, 'sini oom kasih mobil-mobilan. Tapi om mau nanya dulu dong, kamu rumahnya dimana ?', terus Athia jawabnya gimana, Sayang ?"

Ingat, metode pelaku kekerasan seksual tadi gak hanya berupa ancaman, tapi juga dalam bentuk bujukan.
Dikasih tau sejelas mungkin ke anak, lengkap dengan contoh-contoh bentuk ancaman seperti apa, bentuk bujukan seperti apa, yang mungkin akan diterapkan oleh pelaku.

Karena terkadang, seringkali apa yang gw sampaikan ternyata tidak sejalan dengan apa yang dipahami dan diserap oleh mereka.
Sehingga harus diulang-ulang dan dipastikan bahwa mereka mengerti.

Dan saat menerangkan sesuatu, gw berusaha menerangkan dengan contoh sesimple mungkin, yang kira-kira bisa diterima oleh latar belakang trainee.
Ini terbukti lebih cepat masuk di otak mereka, ketimbang sok-sokan ngasih bahasa yang sophisticated. Ujung-ujungnya mereka gak ngerti juga maksudnya apa.

See, itu aja masih kejadian di lingkungan pekerjaan yang notabene usia di atas 20 tahun. Apalagi untuk anak-anak usia di bawah 7 tahun ?

4) Selanjutnya PR kita adalah mengajarkan anak jenis-jenis sentuhan
Ada tiga jenis sentuhan

a) Sentuhan yang baik / diperbolehkan
    Menyentuh dari bahu ke atas atau dari lutut ke bawah

Biasanya sentuhan seperti ini dilakukan sebagai bentuk kasih sayang.
Misalnya dengan mengusap, membelai kepala, mencubit pipi, menyentuh dagu.

Tapi please note, ini semua sentuhan dengan tangan ya, bukan dengan bibir.
Hati-hati berciuman pipi, apalagi ciuman bibir.
Termasuk untuk yang suka ciuman bibir dengan pasangan, Jangan lakukan di depan anak.
Anak-anak kita adalah peniru ulung lho.
Takutnya kebiasaan itu dia lakukan juga dengan anak lain.
Kan anak belum paham kenapa kita lakukan itu, dengan siapa sih itu boleh dilakukan.

b) Sentuhan yang membingungkan
  • menyentuh bagian badan dari mulai bahu sampai di atas lutut
  • Menunjukkan kasih sayang dan nafsu, misalnya mula-mula mengelus kepala, memeluk dan meraba bagian tubuh dari bawah bahu sampai atas dengkul. Ato bagi anak perempuan sih paling sering, mepet-mepetin dada supaya maaf, bagian payudaranya tersentuh bagian tubuh pelaku.

Maksud dari sentuhan yang membingungkan ini bukan berarti kemudian anak harus merasa bingung lho.
Tapi pada bagian ini, yang perlu kita ingatkan ke anak adalah dia harus mulai waspada, masang ancang-ancang.

Yang membingungkan itu adalah maksud dan tujuan orang saat menyentuh bagian tersebut. Kita kan gak pernah tau pasti tujuannya, makanya saat bagian itu disentuh, ibarat lampu lalu lintas, anak sudah kita latih untuk bereaksi bak 'lampu kuning' , mulai waspada.

c) Sentuhan yang jelek

" LAMPU MERAH " jika ada orang lain yang mulai menyentuh :
  • Bagian tubuh yang ditutupi pakaian renang 
  • menyentuh, meraba-raba paha, atau bagian yang dekat dengan kemaluan
Ini berlaku untuk anak laki-laki maupun wanita.

5) Ajarkan anak untuk mempercayai insting nya / perasaannya
Kalo gw sih sering bilang ' naluri detektip' heu heu heu...

Disadari maupun tidak, tapi sebenarnya anak-anak sudah memiliki basic insting / kepekaan terhadap perasaan dan perlakuan orang lain terhadapnya.

Pernah ngeliat gak anak kadang menyodorkan tangan saat melihat seseorang yang mungkin menurut instingnya, orang tersebut tulus ?
Tapi kemudian anak tersebut memalingkan wajahnya, menolak digendong oleh seseorang yang menurut perasaannya bukan orang yang bisa bikin dia merasa nyaman.

Nah, anak kita sebenarnya bisa kita latih atau ajarkan untuk memperhatikan dan mempercayai berbagai macam perasaan yang dialaminya bila ia berhadapan dengan orang lain.
Apakah perasaannya itu menyenangkan, membingungkan atau malah menakutkan ?

6) Ajarkan anak untuk berkata TIDAK, GAK MAU atau JANGAN BEGITU !
Anak harus belajar berani bertindak tegas mengatakan : JANGAN BEGITU, TIDAK, GAK MAU kepada orang dewasa atau anak yang lebih besar dari dirinya saat dia merasa perlu melindungi dirinya sendiri.

Jika dirasa perlu karena dirinya terancam, anak diperbolehkan untuk berbohong.
Tapi agak kontradiksi sih sama apa yang kita ajarkan agar anak tidak berbohong.
Makanya harus ditekankan benar-benar bagian ini : hanya jika dirimu terancam!

7) Yakinkan anak untuk bisa berbagi rahasia dengan kita
Inilah kenapa di awal tadi kita harus meningkatkan kualitas komunikasi antara kita dengan anak.
Agar anak merasa nyaman untuk menceritakan kepada kita setiap bujukan maupun ancaman yang datang kepada dirinya, berkaitan dengan pelaku kekerasan seksual ini.

Laah, bagaimana anak bisa mau jujur dengan kita kalo kita dianggap bukanlah tempat yang nyaman untuk diajak curhat atau paling gak diajak ngomong.
Anak baru mangap dikit, kita udah nyerocos motong pembicaraan
Anak baru ngaku sepatah kalimat, kita udah ngomel serentet kalimat.

Satu hal yang pernah gw pelajari, bahwa jika kita sudah menjadi tempat yang nyaman untuk diajak ngobrol, diajak curhat, umumnya anak dengan sendirinya gateel, gak bisa menahan diri untuk gak curhat ke kita.

Gak percaya ?
Lihat aja kelakuan kita sendiri.
Kalo kita udah punya sohib yang kita percaya, yang udah enak banget diajak curhat, setiap ada masalah, apa aja kayaknya gak afdol kalo kita gak curcol ke dese. Betul ?

8) Genapkan ikhtiar dengan doa
Setelah semua ikhtiar kita lakukan, selanjutnya kita hanya perlu berdo'a dan pasrah. Semoga Allah SWT melindungi anak dan keturunan kita dari bencana.

Setelah menyimak materi seminar session 1 dan session 2, apa yang kita rasakan sebagai orang tua zaman sekarang ?
Khawatir ?
Parno ?
Cemas ?

Semua itu adalah perasaan yang wajar kita rasakan.
Itu adalah naluri kita sebagai orang tua adalah melindungi buah hatinya, dari bencana dan ancaman yang datang darimanapun, dari siapapun.

Kecemasan itu tidaklah membuat kita stuck, gak move on, apalagi tidak melakukan apa-apa.
Namun kecemasan itu haruslah kita sikapi dengan ilmu.

Kalo menurut gue, menjadi orang tua dan parenting skill itu bak anti virus di gadget kita.

Parenting skill yang kita punya saat ini harus terus menerus diupgrade ke level yang mengikuti perkembangan zaman.
Jika kita hanya bertahan di antivirus versi terdahulu, tentunya tidak bisa menahan gempuran virus yang bermutasi tiap saat.
Jika kita hanya bertahan dengan parenting skill jaman baheula, tentunya udah berat banget membentengi anak-anak kita dari gempuran problema yang dihadapinya sekarang.

Anak itu bukanlah milik kita, dia hanya titipan.
Saat anak dilahirkan dari rahim kita, dia menangis, memecahkan kesunyian penantian kita selama 9 bulan,
Dan kita tersenyum bahagia saat melihat dia terlahir sempurna.
Tak kekurangan satu apapun.

Janganlah ketika tiba waktunya Yang Menitipkan meminta kembali titipan-Nya, kita kembalikan dalam keadaan 'rusak'...
Rusak pikirannya,
Rusak moralnya,
Rusak jiwa raganya.

Terjadi pada siapapun, usia berapapun, Kekerasan Seksual itu akan menimbulkan bekas dan trauma yang mendalam.

Karenanya mari kita kerahkan segenap jiwa dan raga untuk membesarkan, mendidik dan melindungi buah hati kita...

Alhamdulillah, masih diberikan kesempatan, masih dibukakan pintu hati dan pikiran untuk mengupgrade parenting skill kita, demi mencapai tujuan pengasuhan ke anak untuk dapat dipertanggungjawabkan ke Tuhan YME, jika tiba saatnya ...

Dan Insya Allah, tanggal 24 November nanti akan mengupgrade parenting skill untuk suatu topik " Ketika Anak Kecanduan Games ".

Semoga ulasan dan rangkuman ini bermanfaat untuk para orang tua yang senantiasa ingin mengupgrade parenting skill nya...
Karena kita tidak terlahir , satu paket komplit dengan parenting skill, Apalagi dengan versi "automatically upgraded"

Contoh Postingan Untuk Sesi 2 #SuperSmallBites

Berikut adalah contoh untuk photo contest #SuperSmallBites sesi 2, ditulis oleh salah satu anggota SUPERMOMS,Dhira Rahman, semoga bisa menambah inspirasi ya


hasil karya ZUA, ayah mendorong stroller adik
Mungkin foto ini bukan apa-apa buat yang melihatnya, selain dari coretan tak jelas anak 5 tahun, tapi untuk saya dan suami, it means everything. Gambar tersebut dibuat Zua, si sulung pada saat adiknya berusia 10 hari. Kami sendiri baru melihatnya ketika menerima progress report Zua bulan juni lalu.
Mengapa seberharga itu gambar ini? Karena buat kami artinya kami berhasil menanamkan rasa sayang zua pada adiknya, dia ingat tiap kali pergi keluar, ayahnya lah yang selalu mendorong stroller adiknya..

Aku ingin anak-anak kami tumbuh besar bersama, penuh kasih pada sesama.. Kenapa? Karena keluarga adalah sekolah pertamanya, karena keluarga adalah pendukung utamanya, karena itulah yang kelak menjadi tempatnya kembali, Because I care

#SuperSmallBites kontes foto o/ Supermoms dan SmallBitesPhoto by Rittarsesi II

dengan segenap cinta, kami dari @supermomsid dan @SmallbitesPhoto
kembali mempersembahkan

@supermomsid dan @SmallbitesPhoto
PHOTO CHALLENGE

Sila cek persyaratannya, pastikan keikut sertaan anda, super parents!

1. Kontes foto ini terbuka untuk semua calon peserta seminar SESI 2 yang sudah membayar lunas dan confirm untuk mengikuti seminar @supermomsid.

2 . Follow twitter @supermomsid @SmallbitesPhoto

3. Kirim photo anda di email supermomsid.photo@gmail.com dengan subject SuperSmallBites2 sesuai dengan tema dan ceritakan secara singkat apa yang ada di photo tersebut. Kurang jelas? cek CONTOH disini

4. Sebelum mengupload jangan lupa untuk klik like www.facebook.com/pages/supermoms-Indonesia/158526200863124 dan
www.facebook.com/smallbitesbyrittar

5. Tema Photo contest sesi kedua ini adalah "Because I care". Tunjukkan kepedulian anda melalui foto yang dikirimkan, setiap peserta berhak mengirimkan 1 foto, untuk peserta couple, BOLEH mengirim 2 foto

6. Periode kontes adalah 9 September- 19 september 2012 pukul 24:00

7. Pengumuman pemenang akan diumumkan di seminar sesi 2 yaitu 22 sept 2012

8. Pemenang Photo contest berhak mendapatkan 1 sesi photo shot oleh
www.smallbitesbyrittar.com seharga IDR 6.500.000

9. Setiap foto yang masuk berhak ditampilkan di page @supermomsid maupun @smallbitesPhoto


Tunggu apalagi, pastikan seat anda dan rebut kesempatan untuk mengabadikan moment indah anda bersama SmallBitesPhoto!

Oleh-oleh Dari Sesi 1 #tetralogy

Seminar sesi 1 dari rangkaian seminar #tetralogy telah berlangsung pada 1 September 2012, kami dari Supermoms sangat bahagia pada antusiasme super parents untuk bersama-sama kami belajar dan berbagi ilmu.

Untuk itu kami ingatkan kembali bahwa twitter/social media dan terutama dunia maya adalah dunia tidak bertepi, siapa saja bisa mengakses informasi-informasi di social media, juga anak-anak kita. Karena materi seminar kemarin penuh dengan konten dewasa, baiknya konte-konten yang sangat memprihatinkan biarlah menjadi bahan perenungan kita sebagai orang tua, biarlah konten-konten tersebut tetap di kepala&hati kita,tidak perlu keluar di social media, krn rasa ingin tahu anak-anak&remaja sgt besar, semoga apa yang kita ingin jadikan kebaikan tidak menjadi bumerang untuk anak-anak kita..

Berikut adalah rangkuman seminar sesi 1 yang ditulis dengan sangat bagus, sangat padat dan sangat menyentuh oleh salah satu anggota Supermoms Community, INDAH KURNIAWATY, selamat membaca dan semoga bisa diambil manfaatnya..


Pertanyaan pembuka dalam seminar Session 1 adalah Siapa yang di antara peserta sudah memberikan handphone kepada anaknya dan apa alasannya ?

Beberapa peserta jujur mengacungkan jari.
Ada yang memberikan HP Samsung bahkan memberikan fasilitas Blackberry kepada anaknya.

Alasannya pun bermacam-macam.
Ada yang ingin memudahkan komunikasi dengan anak karena anaknya tinggal di kota yang berbeda.
Ada pula yang memberikan hape ini ke pengasuhnya.
Ada yang karena ingin menstimulasi anak dengan applikasi dalam handphone tersebut.

Alasan kenapa Bu Elly menanyakan hal tersebut seiring dengan fakta yang ingin ditunjukkan Bu Elly Risman ke kami bahwa modus operandi dalam mendekati anak-anak kita

1. Miss-call, sms, BBM
Udah pernah denger kan kasus anak remaja wanita yang berkenalan dengan pria tak dikenal di Fesbuk, kemudian diajak ketemuan dan akhirnya diperkosa beberapa waktu silam ?

Ada lagi kasus lain yang gak kalah serem.
Seorang anak perempuan yang kurang perhatian dari orangtuanya mendapat satu sms nyasar. Dari sms nyasar itu somehow kok malah berlanjut jadi kenalan dan akhirnya sering berkirim sms dengan si pelaku nyasar.
Setelah lama saling sms-an, si pelaku mulai berani menanyakan alamat rumah sang anak dengan alasan ingin mengirimkan hadiah.

Yah...jangankan anak-anak. Kita yang udah tua ini aja masih suka tegiur dengan iming-iming hadiah. *tutup muka sendiri*
Dalam waktu 2 bulan setelah sering berkirim sms tadi, anak perempuan tersebut diperkosa oleh sang pelaku.
Dan saking gilanya, ternyata sang pelaku sampai ngontrak sebuah rumah yang berjarak selang 11 rumah dari rumah sang korban.

2. Dipaksa oleh pacar
Alasannya : karena pengakuan sang kekasih, hampir semua anak laki-laki dalam genknya sudah melakukan itu. Cuma dia aja (pacarnya) aja yang belon nyobain.
Makanya sang cowok minta diberikan kesempatan untuk merasakan itu dengan anak cewek. Kalo gak diturutin, tuh cewek akan diputusin dan milih sama yang mau aja. Cetek banget emang. *rasanya pengen gw bikinin penyet tuh cowok yang ngomong gitu*

Beuuuh, padahal anak itu baru juga umur 13-15 tahun dan belum pernah ngerasain aja udah komplain. Gimana temen gw yang masih menjomblo dan sekarang berusia lebih dari dua kali umur anak tadi ? *oopsss...*

3. Dijual oleh teman, tetangga.
Kadang uang membutakan mata kita termasuk mata hati.
Sehingga sanggup membuat orang di dekat kita tega melakukan ini. Udah banyak banget kan beritanya di TV.

Selanjutnya.
Tsunami pertama yang gw rasakan di awal seminar adalah saat Bu Elly menunjukkan slide yang berisi sms yang ditemukan di ponsel seorang anak remaja wanita :

SMS remaja yang dipresentasikan oleh Bu Elly dalam seminar kemarin
Yep, alay bin surelyalay banget.
Adakah di antara teman-teman yang langsung bisa baca sms tersebut ?

Sama ! Toss ! Gw juga tadinya bingung baca sms gituan.

Gw yang tadinya udah memproklamirkan sebagai ANTI-4L4Y 4EVAH kayaknya harus berpikir ulang deh. Sepulang dari seminar, gw bertekad harus menguasai dunia anak gw nanti. Termasuk bahasa Alay ini, jika emang dirasa perlu.

Ternyata begini nih cara pandang untuk membaca sms alayumgambreng:

ternyata cara bacanya dengan membalikkan HP
Gw terjemahin ya :
My Luppi..
Thanks ya udah mo nyoba, bener khan sakitnya cuman sebentar..
besok ku ke rumahmu
Kita coba lagi ya
Ku beliin pengamannya, mau rasa apa.

DEZIIIIIGGG!!!!!

Saat ngerti baca SMS tadi, gw merinding dari ujung kaki sampe ujung rambut.

SUMPEY LOE!
Jaman gw SMP, senakal-nakalnya temen gw adalah makan 4 gorengan, tapi ngakunya cuma makan 2 gorengan! Ato paling badung ngebolos, ngerokok ato gak pernah bikin PR.
Kebayang gak sih kalo loe ada di posisi Ibu yang menemukan sms ini di HP putrinya ?? Buah hati loe yang baru menginjak remaja ???

Siapa yang diantara kita yang suka menerima sms-sms penawaran "asusila" ?
Sekarang dengan teknologi BB yang sudah menyebar ke kalangan anak-anak, mereka pun menerobos ke PIN BB anak kita dengan mengirimkan broadcast message kayak gini :

Add: A39XX8FX
Namanya si C...BFF gua..Anaiknya baik, gokil, kece, enak diajak curhat, ngalah selalu...Big Fans of SNSD & 2PM ga add nyesel 100%
#sorryBM
#keepselo
#nodelcont

Book, kalo gak dijelasin Bu Elly Risman di seminar itu, gw MahMud alias Mama Muda so called masih eksis ini aja kagak ngarti #nodelcont itu No Delete Contact, #keepselo itu artinya Keep Slow aje. Gimana kalo emak-emak buta technology ? Emak-emak yang udah gak keep up dengan dunia zaman sekarang ??

Kesian ya kita orang tua. Padahal gimana caranya kita mau memonitor anak kita kalo bahasa kode mereka aja kita gak ngerti ??

Dan gw baru ngeh. Beberapa hari sebelum seminar, keponakan sepupu gw yang ABG itu ngaku BBnya pernah dihack oleh temennya dan ngirimin gw BM kayak gini :
(+) Prat*w* K 3*SHS good loking. PIN : 20X7EX98 #sbc (yang kemudian gw tau artinya Sorry BroadCast)

Artinya buat gw apa ?
Apa yang diutarakan Bu Elly di seminar itu bukan rekayasa, bukan cuma isapan jempol belaka tapi emang beneran nyata. *makin lemes badan gw*

Ada beberapa media dimana anak biasanya mengakses pornografi :
1. Situs Internet : 21 %
Teman-teman yang udah memasang wifi di rumah atau menyediakan fasilitas internet di rumah agar memudahkan anak berselancar di dunia maya, sudah pernah belon mendampingi mereka saat mereka mengakses internet ?
Apakah kita sudah yakin tau dan kontrol situs apa saja yang mereka buka ?
Apalagi jika anak-anak kita mengakses internet dari warnet.
Apakah kita tau situs apa yang mereka buka tanpa sepengetahuan kita ?

Dengan perang promo dari para provider telepon seluler , anak-anak menjadi lebih mudah mengakses internet melalui telepon genggam yang kita berikan padanya.
Tapi taukah anda bahwa 4% dari anak yang suka mengakses pornografi dari internet, mengaku mengakses situs tersebut dari HP yang diberikan orang tuanya ?

2. Games : 14%
Dengan maraknya gadget yang dipasarkan di market Indonesia, adalah wajar jika kemudian muncul banyak pertanyaan " Kapankah usia yang tepat memberikan gadget kepada anak-anak kita ?"

Memberikan gadget kepada anak-anak bahkan anak-anak di bawah 1 tahun nampaknya sudah menjadi hal yang lumrah di kalangan middle up.

Berbagai macam alasan diberikan, namun alasan yang paling sering diutarakan adalah untuk memperkenalkan technology sedini mungkin kepada anak,
memperkenalkan anak dengan games-games dan aplikasi yang diinstal di gadget untuk merangsang perkembangan otak anak.

Sebelum kita membelikan, memberikan games ato applikasi ke anak-anak,
• sudahkah kita terlebih dahulu memperhatikan label pada cover depan games / applikasi tersebut ?
• Apakah games / applikasi tersebut memang sesuai untuk dimainkan oleh anak-anak seusia anak kita ?
• Yakin tidak ditemukan 18+, M (Mature / dewasa) ?
• Apa sih yang bisa didapatkan anak kita dengan bermain games/applikasi tersebut ?
Bu Elly menyebutkan beberapa games yang sarat dengan kekerasan dan diselipi dengan pornografi.
Pernah terpikir gak oleh kita sebagai orang tua, bahwa kekerasan dalam games ini bisa menjadi inspirasi bagi anak-anak waktu tawuran ?

Soalnya kurang lebih senjata yang dipergunakan dalam tawuran yang baru-baru ini merenggut nyawa itu, sama banget dengan yang dipake dalam games-games yang sering dimainkan oleh anak-anak.
Nah Lho ! Nah Lho !

Mungkin karena mereka terbiasa memainkannya dalam dunia maya, sudah gape (jago) dan butuh sesuatu yang lebih menantang. Makanya mereka pengen nyobain memainkannya dalam dunia nyata.

Pernah liat cover depan yang nampak cuma sekedar games Car Racing ?
Tapi pernahkah kita mencoba memainkannya dulu sampai tamat untuk mengetahui isi games tersebut sebelum kita menyerahkan kepada anak kita ?

Dalam games yang keliatannya cuma Car Racing tadi, ternyata anak harus melakukan pencurian mobil dulu, melakukan adegan kekerasan. Parahnya lagi, di akhir permainan, pemenang mendapat hadiah boleh bercinta dengan wanita PSK.
Setiap hari jiwa dan otak anak kita biarkan bermain yang seperti itu, apa gak rusak otak dan jiwanya ? Dan kita gak sadar menjerumuskan anak kita sendiri ?

Gw sepertinya tergolong orangtua yang paling medit di antara temen-temen gw karena gw belum beliin Athia gadget khusus untuk memudahkan dia maen games, menstimulasi otaknya.
Selaen karena emang gak punya duit :p, juga karena gw dan Hani sama-sama gak suka maen games. Baik di handpohone, komputer, ato perangkat lain seperti PS dkk.

Mungkin karena orangtua kami juga menerapkan hal yang sama. Sewaktu kecil kami gak pernah dibelikan Playstation, Nitendo dkk seperti halnya teman-teman kami yang lain.
Walopun gw pernah nangis minta dibeliin tapi alm bokap gw #Keuekeuhjaya gak mo beliin.

Jadilah sampe sekarang, gw gak terbiasa membunuh waktu dengan maen games. Karena emang gak pernah terbiasa, jadinya sampe sekarang gak tertarik.

Gw lebih suka membaca buku.
Karena kebutuhan gw akan membaca, apa aja yang didepan mata akhirnya gw lalap jadi bacaan. Koran langganan bokap gw, buku-buku yang dibeliin termasuk buku-buku koleksi bokap gw.
Oh ya, nyokap bokap sama-sama suka membaca.

Dan saking iritnya (maklumlah bokap gw cuma abdi negara), jarang banget gw dibeliin novel, komik.
Paling banter gw cuma dilangganin majalah Bobo. Selebihnya gw dibeliin buku-buku macam RPUL, Buku Pintar karangan Iwan Gayo itu lho. Dari yang tipis sampe yang edisi lebih tebel. Makanya waktu kecil, gw lebih menonjol di bidang ilmu sosial gw dibanding ilmu pasti.

Walopun mungkin gw gak sekreatif anak yang sedari kecil udah terbiasa dengan games-games pengasah otak, well at least gw masih bisa survive kan dalam hidup ini. :p

Gw dan Hani mungkin masih menganut paham konvensional. Yang lebih suka mengajak Athia bermain ato beraktivitas di outdoor, bermain di bawah sinar matahari, lari-lari menendang bola dalam lapangan rumput daripada menendang-nendang bola di dalam applikasi gadget.

Menurut Bu Elly lagi, pada anak-anak usia 0-7 tahun, anak-anak kita seharunsya diperkuat rangsangan sistem limbik nya terlebih dahulu.
Karena pada usia dibawah 7 tahun, otak-otak syaraf otak mereka belum bersambungan, belum siap menerima hal-hal yang berbau kognitif.

Itulah mengapa zaman dulu pemerintah menetapkan usia masuk SD adalah 7 tahun. Karena pada usia segitulah anak sudah siap menerima logika kognitif di SD.

Sementara anak belum siap menerima logika kognitif, inilah saatnya kita mempertebal sistem limbik nya terlebih dahulu.
Yaitu dengan mengajarkan dan menamakan emosi pada anak. Hal ini pernah gw pelajarin dalam Pelatihan Komunikasi Anak seperti yang udah gw share di sini dan seminar yang dulu.

Jika kita melewatkan rangsangan untuk sistem limbik anak dan langsung bablas memperkuat rangsangan logika kognitif anak, anak kita mungkin akan tumbuh jadi menjadi pintar.
Tapi di tahap kedua dalam perkembangan anak, yaitu usia 7 - 14 tahun orang tua siap-siap anak menuai anak yang tidak bisa berempati, egois, berontak dan susah bersosialiasi.

Padahal tujuan kita mengasuh anak bukan hanya menjadikannya ahli dalam hal professional.
Dengan digembar-gemborkannya sekolah kualitas Internasional, IB blablabla sederet pengakuan sistem ini itu, dll, membuat kita terkadang hanya fokus mikirin finansial planning demi mencapai tujuan menyekolahkan anak di sekolah terbaik.
Tapi kita lupa dengan tujuan-tujuan pengasuhan lain yang gak kalah penting:
• menjadi anak yang sholeh / sholehah (jika non muslim : takut Tuhan)
• Sebagai calon suami agar bisa mendidik istrinya
• Sebagai calon ayah agar bisa mendidik anaknya
• barulah menjadi profesional yang ahli dan bermanfaat bagi lingkungan
• Mengayomi
Intinya : pastikan kita memberikan rangsangan / stimulasi ke anak yang sesuai dengan perkembangan usianya, .

3. Film, Sinetron, VCD / DVD
Siapa yang sering ngajakin anaknya ke bioskop ikut nonton pelem-pelem superhero tapi ada adegan syur ? *warta kota Mode ON*
Siapa yang suka membiarkan anak nonton pelem-pelem konsumsi dewasa ?
Sinetron Indonesia yang sama sekali gak memberikan makna apa-apa, gak ngasih edukasi apa-apa kecuali ujung-ujungnya mesum ato pacaran cinta-cintaan ?

Amati aja perfilm-an dan pertelevisian Indonesia.
Genre film seperti apa yang lebih banyak menarik penonton untuk datang ke bioskop ? Film horor diselingi adegan-adegan syur ?
Termasuk film-film abege yang sama sekali gak mendidik.
Yang so called menceritakan realita kehidupan Abege zaman sekarang yang mulai meninggalkan akidah afgdan moral.

Dan kita membiarkan tontonan seperti ini dikonsumsi anak kita, tanpa disaring terlebih dahulu ?

Dan jangan salah lho...bahkan film kartun yang kita sangka aman itu pun ternyata bisa mengandung unsur pornografi.
Seperti salah satu tokoh kartun yang akhir-akhir ini digemari anak-anak cowok (ini termasuk dengan games onlinenya ternyata juga XXX).

4. Komik : 13 %
Coba cek deh kolong bawah tidur ato bawah bantal anak kita.
Buka dan baca komik yang dibaca anak kita.
Jangan terkecoh dengan sampul depan yang nampak seperti komik baik-baik. Karena bisa jadi di dalam komik ini juga mengandung unsur pornografi. gambar-gambar dan cerita-cerita yang kurang pantas secara akidah, moral dan kepribadian bagi anak-anak.
Bahkan beberapa di antaranya menggambarkan percintaan homo-sexual.

Komik porno sangat terjangkau bagi anak-anak karena hanya dijual dengan harga 3500 - 8000.
Bahkan di toko buku, komik-komik porno ini bisa dipajang di rak komik anak-anak lho. Bukan rak orang dewasa.
Bisa jadi anak Anda memiliki komik itu karena Anda yang tanpa sengaja membelikannya saat dia memilih komik tersebut di depan kasir saat ingin membayar belanjaan Anda.

5. Iklan
Iklan-iklan yang menampilkan adegan / foto yang gak patut dan gak nyambung juga sama barang yang dijual.
Coba ngajarin anak kita adegan-adegan anonoh, padahal dia jual mesin cuci.
Apa gak nggilani industri jaman sekarang ?
Cari perhatian kita dengan merusak masa depan anak kita.

Emang dimana sih anak-anak itu melihat film/foto/video ato maen games pornografi ?
Mencengangkan !
Karena paling banyak anak justru melihatnya di rumah sendiri / rumah sodara.
Ada juga yang melihatnya di bioskop *bisa-bisa justru diajak orang tuanya sendiri*, warnet dkk.


Hati-hati jika menyimpan terlebih lagi mengkoleksi Film ato Foto yang berbau pornografi.
Ah jadi inget waktu kasus Vokalis band ternama yang menjadi bintang utama Film Porno dengan beberapa artis. Banyak temen cowok gw yang mengirimkan link melalui laptop ato telephone genggamnya.
Niatnya sih mungkin biar eksis ngasih liat ke orang-orang di pabrik " Mau liat gak ? Hah ? Baru versi LM ? Saya udah punya versi CT "

Tapi kepikiran gak kalo kita sampe lalai menyimpan telepone genggam di rumah dan diakses anaknya, anak kita bisa saja melihat video ato foto tak senonoh tersebut.
Karena kenyataan dalam salah satu survei adalah anak mengaku menonton Film / melihat foto porno dari BBM Group mamanya dan video koleksi Mama.
Nah Lho! SKAK MAT! *eh kenapa bukan dari papa sih ?*
Apa karena Bapak-bapak gak punya BBG ?
Apa karena Bapak-bapak lebih pinter ngumpetin handphone nya ya ?

Dan ada yang mengaku dapet dari Hape supir lho.
Jadi jangan pernah merasa aman karena merasa anak kita dengan orang yang dekat kita.
Kita gak selalu tau pengaruh apa yang bisa dibawa oleh seseorang (walopun itu dekat dengan kita) terhadap anak kita.

Masalah pornografi bukan cuma masalah sosial di Indonesia, tapi juga menjadi masalah global. Masalah DUNIA.
Karena kerajaan bisnis dengan keuntungan dan penetrasi pasar paling baik saat ini adalah justru bisnis pornografi dan bisnis narkoba.

Dan para pelaku yang berada di belakang bisnis pornografi ini sudah memikirkan business plan secara matang untuk jangka waktu yang panjang.

Bayangin...business plan dan business mapping mereka.

Sebenarnya apa sih yang diinginkan sama para pelaku jaringan bisnis pornografi ini dari anak-anak kita ?


Menurut Mark B. Kastleman, penulis buku " The Drug of The New Millenium " (very recommended book)

1. Anak dan remaja kita memiliki perpustakaan porno
Jangan bayangkan ini berarti suatu ruangan nyata yang dipenuhi koleksi film-film porno, video-video ato buku-buku porno.
Jika cuma perpustakaan dalam bentuk begini, mungkin gak perlu waktu lama bagi kita memusnahkannya.

Coba,
Seberapa cepat, Anda bisa menghitung seperti ini :
10 X 5 = ?
100 + 100 = ?
200 - 50 = ?
300 : 6 = ?

Bagi yang sudah terbiasa belajar, berhitung dengan angka-angka, menjawab pertanyaan itu bukanlah hal yang sulit.

Mengapa ?
Karena sedari kecil otak kita sudah terbiasa dengan latihan kali, tambah, kurang, bagi.
Jadi setiapsaat, kapanpun kita memerlukan 'jawaban' perhitungan tadi, kita cuma perlu memanggil memory dalam otak kita dan menjawab pertanyaan tadi. Just like that!

Bayangkan, jika anak kita sedari kecil terbiasa melihat pornografi.
Memory dalam otaknya akan terus merekam dan merekam adegan, gambar pornografi tersebut.

Jadi kalo anak-anak nanti keseringan melihat pornografi, dia akan ketagihan untuk melihat dan pastinya tinggal memanggil kembali memory dalam otaknya untuk menampilkan adegan, foto, dari otaknya.
Memanggil referensi dari perpustakaan porno...di otaknya.
Kapanpun.
Dimanapun.
Setiap saat. Dimana saja

2. Kerusakan Otak Permanen
Dalam otak setiap manusia terdapat yang namanya " Pre Frontal Cortex" yang berperan sebagai Direktur dari otak kita.
Fungsi Direktur inilah yang menjadikan manusia :
- Memiliki perencanaan masa depan
- Mengatur emosi tunda kepuasan : Kita jadi sadar bahwa kita harus melakukan kewajiban, sebelum mendapatkan hak
- Mengontrol diri kita : yang membuat Kita terus sadar jika kita melakukan hal-hal yang tidak benar, maka akan ada konsekuensinya terhadap kita sendiri
- Yang menuntun kita dalam mengambil keputusan

Biasanya Direktur dalam otak kita ini baru matang di usia 25 tahun.

Selain Direktur, ada lagi Dopamin dalam sistem Limbik (responder) di sistem otak kita.

Pernah ngerasain nyobain makan keripik pedas sarat MSG yang ada level-levelan itu gak ?
Waktu pertama kali ngerasain pedesnya keripik level 3 di lidah, mungkin kita akan shock " Busyet, pedes banget!".
Tapi efek pedas bercampur MSG itu akan memberikan sensasi yang dahsyat di lidah sehingga kita bukannya kapok malah kepingin nyobain lagi.

Besoknya kita akan penasaran pengen nyobain lagi, pengen ngerasain sensasi pedasnya. Gak puas hanya level 3, coba aaah level 5...

Makin dahsyat! Sensasinya meningkat! Makin pengen nyobain lagi...

Akhirnya kita nyobain level 10...nyobain level yang lebih tinggi, lebih tinggi dan lebih tinggi...

Seperti itulah para pelaku bisnis pornografi sudah memprediksi psikologis anak-anak saat melihat pornografi.

Yah, Dia akan shock --> Responder dalam otaknya kemudian mengeluarkan Dopamin --> Sehingga saat anak merasa BLAST (akan dibahas dibawah) --> timbul keinginan bagi si Anak untuk melihat pornografi itu lagi --> Dan dia akan merasa lebih baik setelah melihat lagi pornografi kembali.

Rasa ingin melihat terus, lagi dan lagi...sehingga rasa ketagihan ini akan terus melatih Responder dalam otak, memuaskannya dengan cara melihat pornografi lagi dan lagi.

Anak yang hanya terus menerus melatih responder nya, dan tidak pernah memfungsikan Direktur dalam otaknya, akibatnya fungsi Direktur akan terganggu dalam otak.
Porsi Direktur dalam otak mengecil.
Jika terus mengecil, maka anak akan mengalami kerusakan otak secara permanen.

Seorang Ahli Bedah Syaraf di USA, dr. Donald Hilton Jr pernah melakukan riset dengan MRI.
Bahwa kerusakan otak permanen yang disebabkan oleh ketagihan pornografi itu SAMA HANCURNYA seperti kerusakan otak seseorang yang ketabrak kontainer. *GLEK!*

Padahal fungsi Direktur dalam otak kita sangat penting.
Karena di situlah tempat moral dan nilai-nilai tanggung jawab kita sebagai manusia. Jika Fungsi Direktur dalam otak ini rusak, bisa dibayangin gak, gimana kita sebagai manusia bisa menjaga moral dan menjadi manusia yang bertanggung jawab ?

3. Anak-anak menjadi Pelanggan Pornografi = THEIR FUTURE MARKET ! *Sumpah, pengen gw bakar setan-setan ini!!!*
Setelah anak-anak mengalami kerusakan otak permanen, tentunya mereka gak kan punya kontrol lagi dalam hidup mereka.
Terus aja ketagihan akan pornografi ini.
Bahkan tega melakukan incest (melakukan hubungan intim dengan saudara sedarah).

Coba, kalo kita liat dalam siaran berita di Televisi, berapa banyak orang tua yang memperkosa anak kandungnya, kakak memperkosa adik kandungnya ?

Lalu, siapa yang menjadi target utama para pelaku jejaring bisnis pornografi ini ?

1. Anak laki-laki ! *kekep Athia*
Karena laki-laki memproduksi hormon testosteron lebih banyak daripada wanita! Mereka lebih gampang terangsang dibanding anak wanita!

2. Belum Baligh !

3. BLAST : Bored, Lonely , Angry , Stress, Tired
Maksudnya anak yang bosan, gak ada tujuan, gak tau musti ngapain.
Kesepian karena gak ada orang yang dekat dengan dia yang melimpahkan perhatian dan kasih sayang,
Marah karena kebutuhan dia akan kasih sayang tak terpenuhi,
Stress, yah kalo udah ngerasain keempat rasa tadi pasti setreslah
Akhirnya capek hati sendiri.

Sekarang, gimana kita bisa tau kalo anak kita kecanduan pornografi apa gak ?
Bagaimana deteksi dini nya ?

Ada 10 Ciri-ciri anak kecanduan pornografi

• Mudah haus dan tenggorokan kering
• Sering minum
• Sering buang air kecil
• Sering berkhayal
• sulit berkonsenterasi
• Jika bicara menghindari kontak mata
• Sering lama bermain PS dan internet
• Prestasi akademis menurun
• Main dengan kelompok tertentu saja
• Berprilaku aneh
Apa yang harus dilakukan jika Anda mendeteksi beberapa ciri-ciri tersebut ditemukan di perilaku anak Anda saat ini ?

1. TENANG
2. HINDARI MARAH ATAU PANIK
Karena jika Anda tidak menenangkan diri, maka Anda akan panik dan kemungkinan akan memarahi anak Anda.
Jika kita memarahi mereka, alih-alih anak akan kembali kepada kita. Kemungkinan besar anak akan semakin menjauhi kita.
Ini mengakibatkan akan semakin sulit bagi kita untuk merangkul anak kembali dan memberikan terapi ke anak.
3. Maafkan, minta ampun dan musyawarah.
Maafkan dia, buah hati kita.
Dia adalah anak kita yang saat ini sedang tersesat.
Dan dia membutuhkan bantuan kita. Secepatnya.

Cobalah bicara baik-baik dengan anak.
Jangan menyinggung soal kecurigaan kita tentang pornografi terlebih dahulu.

Dekatilah anak kembali dengan cara meminta maaf atas tingkah kita sebagai orang tua yang mungkin menyakiti dia, tidak berkenan di hatinya sebagai anak.
Biarkan anak melampiaskan semua emosinya kepada kita.
Biarkan saja. Jangan membalas, jangan membela diri.
Terima saja semua pelampiasan emosinya kepada kita.

Dengan begitu maka kita akan mendapatkan kembali "kepercayaan" dan "kedekatan emosi" dengan anak kita.
Ini akan jauh lebih mudah untuk kita memberikan terapi kepada anak.

Sebelumnya bicarakan juga hal ini dengan pasangan kita mengenai kecurigaan kita.
Jangan gunakan kalimat yang panjang-panjang.
Pilih waktu yang tepat untuk berdiskusi dengan pasangan.

Jika kita dan pasangan sama-sama sudah siap, barulah kita bicara dan minta maaf kepada anak kita. Saat minta maaf ke anak harus dilakukan BERDUA, Ayah dan Ibu. Karena yang salah dalam pengasuhan ini adalah BERDUA, bukan hanya Ayah, bukan hanya Ibu.

4. Perbaiki Pola Pengasuhan
Terapis terbaik untuk anak kita adalah : KITA, ORANG TUANYA SENDIRI!
Bukan psikolog A, B, C.

Rumuskan ulang tujuan pengasuhan kita seperti yang gw singgung di atas tadi.
Bahwa menyiapkan uang demi menyekolahkan anak di sekolah berkualitas BI, IB ato whateverlah memang penting, tapi itu bukanlah segalanya.
Bukan tujuan utama kita.
Itu cuma tujuan kita nomer kesekian sekian.

Karena ternyata sekolah yang berkualitas premium mungkin bisa dijadikan jaminan mencetak anak kita menjadi anak yang pintar secara akademis, belum tentu bisa menelurkan anak dengan moral dan iman yang bagus.
Makanya jangan menyerahkan semua pendidikan dan pengawasan anak kita semata-mata pada sekolah yang keliatannya bagus!

Orang tua juga harus memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Makanya ayah dan ibu harus bikin komitmen untuk DUAL PARENTING.
Bahwa tanggung jawab mengasuh anak ini adalah tanggung jawab Ibu dan Ayah.
Bukan cuma Ibu saja yang harus memikul tanggung jawab besar ini.
Ayah pun kelak akan dituntut pertanggungjawabannya oleh Allah SWT, karena anak adalah titipan-Nya.

Ayah juga harus memainkan peran yang sama besarnya dengan Ibu.
Karena ternyata peran Ayah dalam perkembangan anak tidak bisa dipandang sebelah mata.

Jika seorang anak perempuan kurang merasakan peran ayah dalam kehidupannya, maka dia akan menjadi anak yang mudah depresi dan cenderung lebih mudah terjerumus dalam pergawulan bebas.

Kenapa ?
Karena dia tidak mendapatkan belaian kasih sayang dari figur Ayah, sehingga dia mencari figur itu di laki-laki asing lainnya. Belaian laki-laki lain.

Mengasuh anak perempuan tentunya tidak sama dengan mengasuh anak laki-laki.
Itulah mengapa peran Ayah juga berperan sangat penting untuk perkembangan jiwa seorang anak laki-laki. Karena Ayah akan memberikan contoh, role model bagaimana kehidupan seorang laki-laki.

Kalo terus-terusan ngintilin ketek emak, maka sedikit banyak tingkah laku dan karakter anak laki-laki akan condong ikut ibunya.
Demen Salon, kumpul-kumpul ngerumpi, suka bergosip, feminim, cerewet kayak emaknya. :p
Lah yang dia liat tiap hari figur emaknya. Kemanakah Ayahnya ?

Lagipula jika Ayah kurang mencurahkan perhatian ke anak laki-lakinya, maka besar kemungkinan anak laki-laki tersebut akan terjerumus ke narkoba, seks bebas, nakal dan agresive. Dia melakukan itu untuk mencari perhatian Ayah nya.

Jangan lupa berikan penerimaan, penghargaan dan pujian kepada anak.
Jika kita ingin menegur anak yang berbuat salah, tolong jaga harga dirinya di depan orang lain. Jangan umbar aib anak kita di depan publik ato orang lain, karena itu akan meruntuhkan harga dirinya.

Janganlah kita menegur apalagi memarahi kesalahannya di depan orang lain.
Hancur harga diri dan hati anak kita.
Kita aja kadang gak mau ditegur ato diomelin Boss di depan orang lain.
Apalagi buah hati kita.

Begitu sebaliknya, jika anak melakukan sesuatu yang so sweet, berikanlah pujian kepadanya agar timbul rasa percaya dirinya.

Coba deh tanya pada diri masing-masing, apa susahnya sih jika orang tua obral pujian kecil seperti " Aduh pinternya anak mama...", ato " Cantik bener anak papa..." ?

Kecil tapi artinya sangat besar sekali lho dalam perkembangan jiwa anak.
Anak merasa diterima, dihargai dan rasa percaya diri bahwa dia disayang dan diperhatikan oleh orang tuanya menjadi menebal.

Setelah ke-empat langkah tadi sudah Anda lakukan dengan baik, kemudian hubungan emosi antara Anda dan anak anda menjadi semakin dekat, barulah Anda melakukan langkah selanjutnya.

1. Cari tau penyebab anak memulai pornografi
Jangan menginterogasi anak kita seakan-akan dia tersangka dalam ruang polsek. Cobalah ajak bicara baik-baik dalam suasana santai. Biasanya cara seperti ini lebih efektif dan anak lebih santai untuk mengemukakan lebih banyak informasi yang kita butuhkan.
Siapa yang ngajarin anak kita ngeliat pornografi? Dapat darimana sih film/komik/DVD porno ? Gimana awalnya dia bisa ikut terjerumus?
Jawaban anak Anda mungkin tidak pernah Anda duga sebelumnya.

2. Selesaikan hal-hal yang menyangkut emosi dan harga diri, maka kecanduan pun akan menurun.

3. Jelasin Target Penyedia Pornografi seperti yang gw rangkum tadi

4. Abis itu jangan lupa tanya pendapat dia.
Ini penting!
Dengan begitu dia akan merasa bahwa dia juga didengarkan pendapatnya.
Merasa dihargai dan dia akan lebih terbuka.
Lagipula kita justru ingin tau lebih banyak dari sisi anak kan ?

5. Susunlah langkah yang akan dilakukan bersama dan bangun kerja sama yang baik antara anak dan orang tua
Bikinlah kesepakatan apa yang akan Anda lakukan bersama Anak jika rasa ketagihan untuk melihat pornografi itu muncul kembali di diri sang anak.
Alihkan rasa ketagihan itu dengan melakukan aktivitas yang lain.

Dan dalam masa terapi ini, Anak harus selalu didampingi oleh salah satu orang tua. Baik Ayah atau ibu. Bukan pengasuh. Bukan nenek/kakeknya. Wong dibawah bimbingan dan pengawasan mereka selama ini bisa kebablasan kok.

Jika ternyata Ibunya juga seorang working mom, silahkan musyawarah dengan pasangan, siapa yang akan melepaskan pekerjaan untuk mendampingi anak full time. Bisa Ayah, ato Ibu.

6. Sepakati langkah agar anak dapat menghadapi kecanduannya, menggantikannya dan mengalihkannya bersama orang lain.

Ada delapan hal yang bisa bermanfaat untuk membantu anak dalam proses terapi ini:
• Jangan fokus pada aspek prestasi akademik semata : PLIS, Saat ini kita hanya fokus pada penyembuhan kecanduan anak dari ancaman kerusakan otaknya !
• Aktif dalam menggunakan teknologi media
• Komunikasi dan disiplin yang berbeda, yaitu dengan kasih sayang
• Perkuat keimanan dalam diri anak. Bicarakan tentang memelihara kesucian sampai menikah nanti. Ini berlaku untuk anak perempuan dan juga anak laki-laki.
• kemampuan berpikir kritis
• Konsep dan harga diri yang baik
• Mandiri dan bertanggung jawab
• Do'a.
Kita bukannya menutup diri dari technology lho. Jelas kita harus memanfaatkan technology ini dalam kehidupan kita. Wong technology harusnya mempermudah kehidupan kita kok.

Tapi bagaimana kita seharusnya lebih bijak dalam menyikapi technology ini di kehidupan kita.
Apapun yang kita sodorkan ke anak kita, pastikan kita tau tujuannya
Pastikan itu sesuai dengan perkembangan usianya
Pastikan itu sesuai dengan akidah agama yang kita anut
Pastikan itu sesuai dengan norma susila yang berlaku dalam lingkungan kita
Pastikan kita tau apa yang sedang kita lakukan, bukan hanya sekedar ikut-ikutan ato gak mo kalah gengsi...


Akhirnya selese juga gw memaparkan apa yang gw serap selama seminar session 1.
Yah mungkin gak semuanya bisa tertuang di sini mengingat keterbatasan space di blog dan memory di otak. LOL.


Seperti biasa setelah ikut seminar Bu Elly Risman, langsung nyes JLEB JLEB di hati gw.
Jangan sampe gw menjadi orang tua seperti yang disindir lagu Bimbo :
Bermata tapi tak melihat,
Bertelinga tapi tak mendengar,
Berhati tapi tak merasa

Mengasuh anak-anak kita zaman sekarang jauh LEBIH MENANTANG, LEBIH BERAT dibanding saat orang tua kita mengasuh kita.
Kenapa ?
Karena anak-anak generasi Z ( lahir 1994 - 2009) ini lahir di saat semua yang menuntut serba cepat, serba instant, serba multitasking dan semua seakan-akan penuh kesenangan.

Friends of mine sering bilang " It takes a village to raise a child "

Kalo versi gw sebagai orang tua selama 3 tahun 5 bulan,
Being a parent is a very challenging job with a great responsibility.
We are responsible for all " Tujuan Pengasuhan Anak "
We are directly responsible to Allah SWT, dimana kelak kita pasti diminta pertanggungjawabannya sebagai orang tua si Pulan
Terikat kontrak selama 24 jam, 7 hari seminggu, 365 hari setahun dan status kontrak baru berakhir saat kita menutup mata...

Maaf, tapi gw gak setuju dengan statement bahwa menjadi orang tua itu adalah unpaid job.
Menurut gw, menjadi orang tua itu malah well-paid.

Makanya seberat apapun tantangan yang akan dihadapi menjadi orang tua, hampir semua pasangan dengan sukarela melamar profesi ini.

Well-Paid.
Tidak dibayarkan mingguan, bulanan, tiga bulanan ato tahunan.
Tapi semua itu akan kita redeem ...
pada saat kita menangis terharu,
saat kita tersenyum bangga melihat semua tujuan pengasuhan anak kita tercapai...
Saat kita masih mendengarkan sederetan do'a tulus keluar dari anak yang sholeh dan sholehah memohon ampunan untuk kita, orang tuanya...

Saat itulah setiap butir airmata bahagia yang menetes tak ternilai harganya...
Gak bisa dinominalkan dengan sederet angka,
Gak bisa digrammatir dengan berat Logam mulia 24 karat

Tetesan airmata bahagia dan senyum bangga itu adalah bayaran yang sangat worth it, luar biasa besarnya...
Yang gak bisa dicapai dengan investasi jenis apapun,
Kecuali investasi bagaimana kita membesarkan dan mendidik anak kita....

Semoga kita selalu menjadi orang tua yang meredeem semua buah baik dari hasil pengasuhan anak kita...

Semoga apa yang gw share di blog ini bermanfaat bagi yang baca demi menyelamatkan anak kita, keponakan kita, adik kita, sepupu kita.
Karena mereka buah hati kita, harapan kita, darah daging kita
Karena mereka adalah masa depan Bangsa kita...

Pemenang #SuperSmallBites Photo Contest

Seminar sesi 1 sudah selesai diadakan pada tanggal 1 september 2012 lalu, pemenang untuk #SuperSmallBites photo contest juga sudah dipilih...

Pemenangnya adalah @nynoot selamat untuk pemenang, ditunggu foto-foto cantiknya yaaa!